HAL-HAL YANG BOLEH DILAKUKAN OLEH ORANG YANG BERPUASA

Seorang hamba yang taat yang faham Al-Qur’an dan sunnah tidak ragu bahwa Allah menginginkan kemudahan bagi hambanya dan tidak menginginkan kesulitan. Allah dan Rasul-Nya telah membolehkan beberapa hal bagi orang yang puasa, dan tidak menganggapnya suatu kesalahan jika mengamalkannya, Inilah perbuatan-perbuatan tersebut beserta dalil-dalilnya:

1. DIPERBOLEHKAN MEMASUKI WAKTU SUBUH DALAM KEADAAN JUNUB

Diantara perbuatannya Shalallahu ‘alaihi wasallam masuk fajar dalam keadaan junub karena jima’ dengan istrinya, beliau mandi setelah fajar kemudian shalat.

Dari Aisyah dan Ummu Salamah radhiallahu ‘anhuma (yang artinya): “Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam memasuki waktu subuh dalam keadaan junub karena jima’ dengan istrinya, kemudian ia mandi dan berpuasa.”   (HR. Bukhori (4/123), Muslim (1109))

2. DIPERBOLEHKAN UNTUK BERSIWAK

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Kalaulah tidak memberatkan umatku niscaya aku suruh mereka untuk bersiwak setiap kali wudhu”. (HR. Bukhori (2/311), Muslim (252))

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak mengkhususkan orang yang puasa ataupun yang lainnya, ini sebagai dalil bahwa siwak bagi orang yang puasa dan lainnya ketika setiap wudhu dan shalat.  (Inilah pendapat Bukhori rahimahullah, demikian pula Ibnu Khuzaimah dan selain keduanya. Lihat (Fathul Bari) (4/158) (shahih Ibnu khuzaimah) (3/247) (Syarhus Sunnah) (6/298)).

Demikian pula hal ini umum di seluruh waktu sebelum zawal (tergelincir matahari) atau setelahnya. Wallahu a’lam.

3. DOPERBOLEHKAN UNTUK BERKUMUR-KUMUR DAN MEMASUKKAN AIR KEDALAM HIDUNG (ISTINSYAQ)

Karena Beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam berkumur dan beristinsyaq dalam keadaan puasa, tetapi melarang orang yang berpuasa berlebihan ketika istinsyaq (memasukan air ke hidung) Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “…..bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq kecuali dalam keadaan puasa.”  (HR. Tirmidzi (3/146), Abu Daud (2/308), Ahmad (4/32), Ibnu Abi Syaibah (3/101), Ibnu majah (407), An-Nasa’I (no. 87) dari Laqith bin Shabrah sanadnya SHAHIH)

4. DIPERBOLEHKAN UNTUK BERCENGKRAMA DAN MENCIUM ISTRI

Aisyah radhiallahu ‘anha pernah berkata: “Rasulullah mencium dalam keadaan puasa dan bercengakrama dalam keadaan puasa, akan tetapi beliau adalah orang yang paling bisa menahan diri.”   (HR Bukhori (4/131), Muslim (1106)).

Seorang pemuda dimakruhkan berbuat demikian, Abdullah bin Amr bin ‘Ash berkata: “Kami pernah berada di sisi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam : Datanglah seorang pemuda seraya berkata: “Ya Rasulallah bolehkah aku mencium dalam keadaan puasa ? Beliau menjawab:”Tidak”, datang pula seorang yang sudah tua dia berkata:”Ya Rasulullah: Bolehkah aku mencium dalam keadaan puasa? Beliau menjawab: “Ya” ; sebagian kamipun memandang kepada teman-temannya, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya): “Sesungguhnya orang tua bisa menahan dirinya.”   (HR Ahmad (2/185, 221)).

5. DIPERBOLEHKAN UNTUK MENGELUARKAN DARAH ATAU DISUNTIK DENGAN SUNTIKAN YANG TIDAK MENGANDUNG MAKANAN

Semua ini, suntikan yang tidak mengandung makanan bukan pembatal puasa. Yang membatalkannya adalah jika suntikan mengandung makanan. 

6. DIPERBOLEHKAN UNTUK BERBEKAM

Dulu bekam merupakan salah satu pembatal wudhu, kemudian dihapus, telah ada hadits shahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliau berbekam ketika puasa, berdasaarkan satu riwayat dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma: “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berbekam dalam keadaan puasa.”   (HR. Bukhari (4/155 – Fath), lihat “Nasikhul hadits wa mansukhuhu” (334-338) karya Ibnu Syakin)

7. DIPERBOLEHKAN UNTUK MENCICIPI MAKANAN

Ini dibatasi selama tidak sampai tenggorokan, karena riwayat dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma: “Tidak mengapa mencicipi sayur atau sesuatu yang lain dalam keadaaan puasa selama tidak sampai ke tenggorokan.”   (HR. Bukhari secara muallaq (4/154-fath), dimaushulkan Ibnu Abi Syaibah (3/47), Baihaqi (4/261) dari dua jalannya. Hadits hasan, lihat “Taqliqut Taqliq” (3/151-152)).

8. DIPERBOLEHKAN UNTUK MEMAKAI CELAK MATA DAN TETES MATA

Benda-benda ini tidak membatalkan puasa, baik rasanya dirasakan di tenggorokan atau tidak, inilah yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam risalahnyaa yang bermanfaat “Haqiqatus Shiyam” serta muridnyaa Ibnu Qoyyim dalam kitabnya ‘Zaadul Ma’ad”, Imam Bukhari berkata dalam kitab “Shahihnya” : “Anas bin Malik, Hasan Al-Bashri dan Ibrahim An-Nakhai’ memandang tidak mengapa bagi yang berpuasa.”

9. MENGGUYUR AIR KE KEPALANYA DAN MANDI

Bukhari menyatakan di dalam kitab  Shahihnya  “Bab mandinya orang yang puasa”, Umar membasahi (membasahi dengan air, untuk mendinginkan badannya karena haus ketika puasa) bajunya kemudian dia memakainya ketika dalam keadaan puasa, As Sya’bi masuk kamar mandi dalam keadaan puasa, Al-Hasan berkata: “Tidak mengapa berkumur-kumur dan memakai air dingin dalam keadaan puasa.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengguyurkan air ke kepalanya dalam keadaan puasa karena haus atau kepanasan,”  (HR. Abu Dawud (2365), Ahmad (5/376,380,408,430) sanadnya SHAHIH).

Sumber : Shifati Shaumin Nabiyyi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (Syaikh Salim bin ‘Id Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid)

 

 

 

 

 

 

 

Pos ini dipublikasikan di Ramadhan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s