Hukum Meninggalkan Shalat

Pertanyaan:
Kakak saya tidak melaksanakan shalat, apakah saya boleh berhubungan dengannya
atau tidak? Perlu diketahui bahwa ia hanyalah kakak saya seayah.

Jawaban:
Orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja hukumnya kafir, ini berarti ia telah
melakukan kekufuran yang besar menurut pendapat yang paling benar di antara dua
pendapat ulama, yang demikian ini jika orang tersebut mengakui kewajiban tersebut.
Jika ia tidak mengakui kewajiban tersebut, maka ia kafir menurut seluruh ahlul ilmi,
demikian berdasarkan beberapa sabda Nabi -shollallaahu’alaihi wasallam-:
“Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah
jihad.” (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad (5/231), at-Tirmidzi, kitab al-Imam (2616),
Ibnu Majah, kitab al-Fitan (3973) dengan isnad shahih).
“Sesungguhnya (pembatas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah
meninggalkan shalat.” (Dikeluarkan oleh Muslim dalam kitab Shahihnya, kitab al-Iman
(82).
“Perjanjiang (pembatas) antara kita dengan mereka adalah shalat, maka barangsiapa
yang meninggalkannya berarti ia telah kafir.” (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad (5/346)
dan para penyusun kitab Sunan dengan isnad shahih, at-Tirmidzi, kitab al-Iman (2621),
An-Nasa’i, kitab ash-Shalah (1/232), Ibnu Majah, kitab Iqamatus Shalah (1079)).
Karena orang yang mengingkari kewajiban shalat berarti ia mendustakan Allah dan
RasulNya serta ijma’ ahlul ilmi wal iman, maka kekufurannya lebih besar daripada yang
meninggalkannya karena meremehkan. Untuk kedua kondisi tersebut, wajib atas para
penguasa kaum Muslimin untuk menyuruh bertaubat kepada orang yang meninggalkan
shalat, jika enggan maka harus dibunuh, hal ini berdasarkan dalil-dalil yang
menunjukkan hal ini. Lain dari itu, selama masa diperintahkan untuk bertaubat, harus
mengasingkan orang yang meninggalkan shalat dan tidak berhubungan dengannya serta
tidak memenuhi undangannya sampai ia bertaubat kepada Allah dari perbuatannya,
namun di samping itu harus tetap menasehatinya dan mengajaknya kepada kebenaran
serta memperingatkannya terhadap akibat-akibat buruk karena meninggalkan shalat baik
dia dunia maupun diakhirat kelak, dengan demikian diharapkan ia mau bertaubat
sehingga Allah menerima taubatnya.

Rujukan:
Kitab ad-Da’wah, halman 93. Ibnu Baz.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1, hal 185-186, penerbit Darul Haq.

Pos ini dipublikasikan di Fatawa. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s