DIBOLEHKANNYA SHALAT TATHAWWU’ DALAM KEADAAN DUDUK

DIBOLEHKANNYA SHALAT TATHAWWU’ DALAM KEADAAN DUDUK

Shalat tathawwu’ sah dilakukan dengan duduk meski mampu berdiri. Demikian pula sah menjalankan sebagian shalat tathawwu’ dengan berdiri dan sebagian lagi dengan duduk. Adapun shalat wajib, maka berdiri adalah rukun di dalamnya. Orang yang tidak berdiri padahal dia mampu, shalatnya batal.

Telah diriwayatkan beberapa hadits shahih tentang hal itu. Dalam hadits Aisyah tentang shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Aisyah bercerita, “…dan beliau biasa shalat malam sembilan raka’at sudah termasuk di dalamnya shalat witir. Beliau shalat malam panjang sekali dengan berdiri, namun di malam lain beliau shalat lama sekali dengan duduk. Bila beliau shalat berdiri, beliau akan rukuk dan sujud seperti shalat orang yang berdiri. Dan bila beliau shalat dengan duduk, maka beliau juga ruku’ dan sujud dalam keadaan duduk…”[1]

Shalat seorang muslim sambil berdiri itu lebih utama bila ia mampu, berdasarkan hadits Abdullah bin Umar, “Shalat seorang dengan duduk adalah setengah dari shalat biasa”.[2]

Demikian juga berdasarkan hadits Imran bin Hushain, diriwayatkan bahwa dia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah tentang shalat seorang sambil berdiri, maka beliau bersabda, ‘Barangsiapa shalat sambil duduk, maka ia mendapatkan pahala setengah dari shalat orang yang berdiri”.[3]

Orang yang shalat sambil duduk, dianjurkan untuk melakukannya dengan bersila di tempat ia berdiri, berdasarkan hadits Aisyah bahwa ia pernah menceritakan, “Aku pernah melihat Rasulullah shalat sambil bersila”.[4]

Ibnul Qayyim menyatakan, “Shalat malam yang dilakukan Rasulullah ada tiga macam: yang pertama (yang kebanyakan beliau lakukan) adalah dengan berdiri. Yang kedua, sambil duduk dan melakukan ruku’ juga sambil duduk. Yang ketiga, membaca bacaan dengan duduk. Bila bacaan tinggal sedikit, beliau berdiri dan ruku’ dengan berdiri. Ketiga cara tersebut diriwayatkan dengan shahih dari Rasulullah.


[1] HR. Muslim

[2] HR. Muslim

[3] HR. Bukhari

[4] HR. An-Nasa’I dan Al-Hakim

Pos ini dipublikasikan di Shalat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s