Fatwa Syaikh Al-Bani tentang Istighatsah

Syaikh Albani ditanya :

Sebagian orang berdalil bahwa meminta bantuan kepada para nabi dan wali berdasarkan hadits Isra’ yang panjang.Terutama kisah yang berlangsung antara Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam ,Rabbnya,dan nabiyullah Musa alaihi salam,tatkala diringankannya shalat dari 50 kali menjadi 5 kali sehari semalam.

Bagaimana bantahan anda atas pengambilan dalil ini?

Jawab:

Orang-orang ini berusaha untuk mengambil dalil-dalil yang menentang pengharaman ISTIGHOTSAH dan meminta pertolongan kepada orang-orang mati yang telah dijelaskan oleh Al Qur’an dengan cara pengambilan dalil seperti ini.Tetapi pengambilan ini ternyata sangat lemah sekali.

Sesungguhnya percakapan yang berlangsung antara Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam dan Musa alaihi salam meruapakan perkara-perkara ghaib yang tidak mungkin diketahui sedikitpun tanpa dikhabarkan oleh Nabi kita Shalallahu alaihi wa sallam.Apa hubungan antara kisah ini dengan kondisi kaum msulimin hari ini,jika mereka menginginkan,misalnya ber-istighotsah kepada Nabi Musa alaihi salam,(apakah mereka akan mendapat faedah darinya,-pent.-) sebagaimana sudah jelas faedahnya bagi Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam!Betapa jauhnya perbedaan dari 2 perkara ini.

Sesungguhnya orang yang ingin menyeru/memanggil Musa alaihi salam atau para rasul-rasul yang lain,berarti mereka menyakini bahwa para rasul itu mendengar apa yang mereka serukan.Dan tentu saja ini adalah perkara yang mustahil,karena orang yang wafat tidak  mungkin mendegar lagi.

Tidak diragukan lagi bahwa cara pengambilan dalil seperti ini merupakan penyimpangan yang jelas terhadap tauhid.Oleh karena itu seorang muslim tidak perlu menghiraukan cara pengambilan dalil yang lemah seperti ini.

Dan herannya mereka bersikeras membolehkan apa yang telah Allah haramkan,bahkan senantiasa kesyirikan yang jelas-jelas bertentangan dengan Kitabullah.

Mereka mengaku bahwasanya mereka adalah muqallid (orang yang sekedar ikut-ikutan) dan mereka (juga) mengharamkan ijtihad.Tapi kenyataannya mereka justru ber-ijtihad dengan berbagai macam ijtihad yang aneh-aneh,dan mereka mengambil dalil dengan cara yang belum pernah ada sebelumnya, baik oleh seorang mujtahid ataupun seorang muqallid.

Sumber : FATWA-FATWA SYAIKH AL-BANI

Penerjemah :Andi Kurniawan, penerbit Pustaka Tauhid

Pos ini dipublikasikan di Fatawa. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s