LOWONGAN KERJA

IMG_20150313_185653

INFO LOWONGAN KERJA

Sebuah konveksi yang berlokasi di daerah Bogor yang memproduksi gamis muslimah untuk anak dan dewasa sedang membutuhkan beberapa orang pekerja dengan persyaratan sebagai berikut :

1. Laki-laki
2. Jujur
3. Tidak merokok
4. Bisa membuat pola gamis muslimah untuk anak dan dewasa
5. Bisa menjahit bahan kaos jersey spandex
6. Bisa mengoperasikan semua mesin (mesin jahit, mesin obras, mesin overdeck, mesin neci)
7. Hari kerja : Senin s/d Sabtu
8. Jam kerja : Jam 08.00 s/d 17.00

Bagi yang berminat dan sesuai dengan kriteria di atas bisa menghubungi dengan cara sebagai berikut:
1. Kirim CV dan Surat lamaran ke alamat email berikut ini : andriansyah.ttc59@yahoo.com
2. Sms atau whatsapp biodata anda ke nomor 085693614513 dengan format : NAMA#ALAMAT#TANGGAL LAHIR#LAMAR TUKANG JAHIT# (contoh : JULIANTO#JALAN PALMERAH BARAT RT03 RW 14 NO 35 JAKARTA BARAT#15 JANUARI 1975#LAMAR TUKANG JAHIT)

Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

AMALAN YANG RINGAN NAMUN BESAR GANJARANNYA

بسم الله الرحمن الرحيم

Berikut ini adalah beberapa amalan yang ringan dikerjakan, akan tetapi memilik ganjaran yang besar di sisi Alloh Subhanaahu wata’aalaa

1. Membaca Dzikir “Subhaanalloohi wabihamdihi Subhaanalloohil ‘aziim”.

Dalam sebuah hadits yang shahih, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallalloohu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

Dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat ditimbangan, dan disukai Ar Rahman yaitu “Subhaanalloohi wa bi hamdihi, subhaanalloohil ‘azhiim” (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Agung). (HR. Bukhari no. 6682 dan Muslim no. 2694)

2. Wudhu dengan sempurna dan berdo’a

Hal ini berdasarkan sabda beliau Shallalloohu ‘alaihi wa sallam : “Tidaklah seorang di antara kalian berwudhu, lalu menyempurnakan wudhunya, kemudian berdo’a:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

“Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak dibadahi dengan benar kecuali Allah. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” Melainkan dibukakan baginya delapan pintu Surga. Dia memasukinya dari arah mana saja yang ia kehendaki”. (HR. Muslim)

3. Dua raka’at shalat sunnah fajar

Keutamaan shalat sunnah subuh ini disebutkan di dalam sebuah hadits shahih, bahwa Nabi shallalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Dua rakaat shalat sunnah subuh lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya”. (HR. Muslim)

4. Memperbanyak Sujud

Memperbanyak sujud dalam shalat maksudnya adalah memperbanyak shalat, khususnya shalat-shalat sunnah.

Ma’dan bin Abi Tholhah Al Ya’mariy, ia berkata, “Aku pernah bertemu Tsauban –bekas budak Rasululloh shallalloohu ‘alaihi wa sallam-,  lalu aku berkata padanya, ‘Beritahukanlah padaku suatu amalan yang karenanya Allah memasukkanku ke dalam surga’.” Atau Ma’dan berkata, “Aku berkata pada Tsauban, ‘Beritahukan padaku suatu amalan yang dicintai Allah’.” Ketika ditanya, Tsauban malah diam.

Kemudian ditanya kedua kalinya, ia pun masih diam. Sampai ketiga kalinya, Tsauban berkata, ‘Aku pernah menanyakan hal yang ditanyakan tadi pada Rasululloh shallalloohu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda,

عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

Hendaklah engkau memperbanyak sujud (perbanyak shalat) kepada Allah. Karena tidaklah engkau memperbanyak sujud karena Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatmu dan menghapuskan dosamu’.” Lalu Ma’dan berkata, “Aku pun pernah bertemu Abu Darda’ dan bertanya hal yang sama. Lalu sahabat Abu Darda’ menjawab sebagaimana yang dijawab oleh Tsauban padaku.” (HR. Muslim)

5. Menyaksikan jenazah dan menshalatinya

Mengenai hal ini, terdapat sebuah hadits shahih dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasululloh shallalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّىَ عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ ، وَمَنْ شَهِدَ حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ  . قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ  مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ

“Barangsiapa yang menyaksikan jenazah sampai ia menyolatkannya, maka baginya satu qiroth. Lalu barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga dimakamkan, maka baginya dua qiroth.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud dua qiroth?” Rasululloh shallalloohu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Dua qiroth itu semisal dua gunung yang besar.” (HR. Bukhari no. 1325 dan Muslim no. 945)

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

مَنْ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ وَلَمْ يَتْبَعْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ فَإِنْ تَبِعَهَا فَلَهُ قِيرَاطَانِ. قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ أَصْغَرُهُمَا مِثْلُ أُحُدٍ

“Barangsiapa shalat jenazah dan tidak ikut mengiringi jenazahnya, maka baginya (pahala) satu qiroth. Jika ia sampai mengikuti jenazahnya, maka baginya (pahala) dua qiroth.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud dua qiroth?” “Ukuran paling kecil dari dua qiroth adalah semisal gunung Uhud”, jawab beliau shallallohu ‘alaihi wa sallam. (HR. Muslim no. 945)

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

KEUTAMAAN DAN ANJURAN UNTUK BERPERILAKU MALU

عن ابن عمر رضي الله عنهما، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم، مر على رجل من الأنصار وهو يعظ أخاه في الحياء، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : دعه فإن الحياء من الإيمان.   متفق عليه

Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma dia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melewati seorang Anshar yang sedang memberi nasihat kepada saudaranya karena sifatnya yang pemalu, lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Biarkan ia pemalu ! Sesungguhnya malu itu bagian dari iman”. (HR. Bukhari dan Muslim)

عن عمران بن حصين رضي الله عنهما قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : الحياء لا يأتي إلابخير.    متفق عليه

Dari ‘Imran bin Hushain Radhiyallahu ‘anhuma dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Perasaan malu selalu mendatangkan kebaikan”. (HR. Bukhari dan Muslim)

عن أبي هريرة رضي الله عنه، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : الإيمان بضع وسبعون، أو بضع وستون شعبة. فأفضلها قول لا إله إلا الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق. والحياء شعبة من الإيمان.    متفق عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Iman itu ada enam puluh cabang atau tujuh puluh cabang lebih, cabang yang paling utama adalah ucapan Laa Ilaaha Illallaahu (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah), dan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu di jalan. Dan malu termasuk bagian dari cabang iman”. (HR. Bukhari dan Muslim)

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أشد حياء من العذراء في خدرها، فإذا رأى شيئا يكرهه عرفناه في وجهه.    متفق عليه

Dari Abu Sa’id Al Khudri  Radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki sifat malu, melebihi malunya seorang gadis yang dipingit. Ketika beliau melihat sesuatu yang tidak disukainya, maka kami akan dapat mengetahuinya dari raut wajahnya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dipublikasi di Mutiara Hadits Kitab Riyaadhush Shaalihiin | Meninggalkan komentar

DO’A KETIKA TURUN HUJAN

hujan (1)

Dari Ummul Mukminin, ’Aisyah radhiyallahu ’anha,

إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ  اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, ”Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat]”. (HR. Bukhari no. 1032)

Dipublikasi di Do'a | Meninggalkan komentar

DUA KALIMAT YANG RINGAN DI LISAN DAN BERAT DI TIMBANGAN

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua buah kalimat yang ringan di lisan namun berat di dalam timbangan, dan keduanya dicintai oleh ar-Rahman, yaitu ‘Subhanallahi wabihamdihi, subhanallahil ‘azhim’.” (HR. Bukhari [7573] dan Muslim [2694])

SC20141108-203008-1-1

Dua kalimat yang ringan di lisan namun berat di dalam timbangan, dan keduanya dicintai oleh ar-Rahman, yaitu ‘Subhaanallahi wabihamdihi, subhaanallahil ‘azhiim’.” (HR. Bukhari [7573] dan Muslim [2694])

Dipublikasi di Dzikir | Meninggalkan komentar

KESENANGAN DAN KESULITAN ADALAH COBAAN HIDUP

Hidup ini tidak lepas dari cobaan dan ujian, bahkan cobaan dan ujian merupakan sunnatullah dalam kehidupan. Manusia akan diuji dengan segala sesuatu, dengan hal-hal yang disenanginya dan disukainya maupun dengan hal-hal yang dibenci dan tidak disukainya.

Alloh Ta’ala berfirman :

Artinya : “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan” (QS. Al-Anbiyaa’ : 35)

Tentang ayat ini, Ibnu ‘Abbas Radhiyallohu ‘anhuma berkata : “Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan maksiyat, petunjuk dan kesesatan”.[1]

Dalam riwayat lain darinya : “Dengan kesenangan dan kesulitan, dan keduanya merupakan cobaan”.[2]

Alloh Ta’ala berfirman :

Artinya : “Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)”. (QS Al-A’raaf : 168)

Ibnu Jarir Rahimahullahu berkata : “Kami menguji mereka dengan kemudahan dalam kehidupan dan kelapangan rizki. Ini yang dimaksud dengan kebaikan-kebaikan (al hasanaat). Sedangkan yang buruk-buruk (as sayyiaat) adalah kesempitan dalam hidup, kesulitan, musibah, dan sedikitnya harta, agar mereka kembali. Adapun (la’allahum yarji’uun) yaitu kembali taat kepada Rabb, agar kembali kepada Alloh dan bertaubat dari perbuatan dosa dan maksiat yang mereka lakukan”.[3]

 

Dinukil dari buku “Hikmah di balik musibah dan ruqyah syar’iyyah” Penulis : Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Hafizhahullahu Ta’alaa, Penerbit : Pustaka Imam Asy-Syafi’i

 

[1] Tafsiir Ibni Jarir Ath Thobari (IX/26 no. 24588) cet. I Darul kutub al ‘ilmiyyah – Beirut th. 1412 H

[2] Tafsiir Ibni Jarir Ath Thobari (IX/25 no. 24585) cet. I Darul kutub al ‘ilmiyyah – Beirut th. 1412 H

[3] Tafsiir Ibni Jarir Ath Thobari (VI/104) cet. I Darul kutub al ‘ilmiyyah – Beirut th. 1412 H

Dipublikasi di Tazkiyatun Nufus | Tag , | Meninggalkan komentar

PERCAYA PENUH KEPADA ALLAH, TIDAK TAKLUK KEPADA BAYANGAN BURUK

Jika hati seseorang bersandar dan bertawaqal kepada Allah, tidak takluk kepada bayang-bayang buruk dan tidak pula dikuasai oleh khayalan-khayalan buruk, sedang ia percaya penuh kepada Allah dan mendambakan karuniaNya, maka dengan itu segala kegelisahan dan kegundahan akan tertangkis, sejumlah penyakit luar maupun dalam akan hilang darinya, dan akan tercipta di hatinya kekuatan, kelapangan dan kegembiraan yang tak mungkin terungkapkan olah kata.

Berapa banyak rumah sakit dipenuhi oleh penderita akibat bayang-bayang dan khayalan-khayalan rusak. Berapa banyak hal ini meninggalkan efek buruk di hati kebanyakan orang yang kuat, lebih-lebih yang lemah. Berapa banyak ia mengakibatkan kedunguan dan sakit jiwa.

Orang yang sejahtera lahir dan batin adalah orang yang dapat disejahterakan dan dikarunia taufiq oleh Allah untuk dapat menekan jiwanya dalam rangka meraih sarana-sarana yang bermanfaat lagi mampu mengukuhkan hatinya dan mengusir keguncangan.

Allah berfirman.

“Artinya : Barangsiapa yang bertawaqal kepada Allah, niscaya Allah yang mencukupinya” [Ath-Thalaq : 3]

Yakni mencukupi segala yang dibutuhkannya baik dalam kehidupan religinya ataupun urusan duniawinya.

Maka orang yang bertawaqal kepada Allah, ia berhati kuat, tidak terpengaruh oleh bayang-bayang buruk dan tidak pula terguncang oleh peristiwa-peristiwa pahit. Karena, ia mengetahui bahwa yang demikian itu adalah tanda kelemahan jiwa dan kekalahan serta ketakutan yang tidak ada wujudnya yang nyata. Ia mengetahui, di samping itu, bahwa Allah telah menjamin orang yang bertawaqal kepadaNya untuk dicukupiNya dengan sempurna. Maka, iapun percaya penuh kepada Allah, tenteram dan yakin dengan janjiNya. Dengan itu, sirnalah kegelisahan dan keguncangannya. Kesulitan yang dihadapinya berganti menjadi kemudahan, kesedihan berganti menjadi kegembiraan, dan rasa takut serta kekhawatirannya berganti menjadi rasa aman dan tenteram. Kita memohon kepada Allah, semoga Dia mengaruniai kita kesejahteraan, kekuatan dan keteguhan hati, dengan lantaran tawaqal sepenuhnya kepadaNya, yang dengan itu Allah menjamin bagi orang-orang yang bertawaqal segala kebaikan dan menangkis segala cobaan maupun marabahaya.

[Disalin dari buku Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa’idah, edisi Indonesia Dua Puluh Tiga Kiat Hidup Bahagia, Penerjemah Rahmat Al-Arifin Muhammad bin Ma’ruf, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Jakarta]

Dipublikasi di Kiat Hidup Bahagia | Meninggalkan komentar